Minggu, 20 Desember 2009

Antara Harapan, Kenyataan, dan Kesenangan

Sesuatu yang kita rencanakan, dan masih berharap untuk terjadi pada waktu yang kita inginkan, bukan berarti itu harus terjadi. Mungkin tidak pada saat yang kita inginkan atau memang tidak terjadi sama sekali. Lebih berkuasanya Tuhan yang Esa.

Boleh jadi seuatu yang terjadi pada diri ini membawa efek kesenangan bagi diri kita. Terkadang lebih menentukan bagai mana mood kita untuk melakukan aktifitas kita selanjutnya.

Jumat, 18 Desember 2009

Pelajaran

Sedikit mungkin yang akan saya tulis disini. Awal saya mengikuti club bahasa Inggris dikampus dan akhirnya saya mempelajari debat bahasa inggris juga. Disana saya mempelajari yang namanya method, matter dan manner. Banyak hal yang bisa diambil dari 3 hal ini. Dari segi methode penyampaiannya kita diminta untuk berbicara secara jelas, sistematis. Balajar bagai mana untuk bebicara didepan orang.
Dari segi matternya kita jadi dituntut untuk membaca atau lebih tepatnya untuk berpengetahuan lebih luas. Hasilnya, saat kita berdebat kita bisa mengerti dengan cepat apa yang disampaikan oleh seseorang. Atau kita bisa mematahkan argument seseorang, karena kita mempunyai pengetahuan dan fakta tentang hal yang sedang diperdebatkan. atau juga sebaliknya. Pendapat yang kita ajukan tidak mudah dipatahkan oleh lawan karena kita mempunyai kekuatan dengan pengetahuan tadi.
Pelajaran yang juga bisa saya dapatkan dalam debat, kita di latih secara tidak langsung untuk lebih dewasa. Karena kita menyampaikan pendapat tentang suatu hal harus disertai dengan alasan dan fakta. Bahkan saat kita menyatakan tidak setuju terhadap suatu masalah kita diminta untuk menyampaikan solusi yang kira kira lebih efektif tentunya.
Nah...Pelajaran yang lebih bagus lagi menurut saya. Kita dalam debat dihadapkan dalam suatu masalah. Yang terlibat dalam debat tersebut ada tiga pihak. Pihak pro, kontra, dan juri yang akan menetukan pemenangnya dalam debat tersebut. Uniknya, sulitnya, adalah di posisi juri itu sendiri. Juri yang baik dalam debat itu adalah saat si juri bisa menempatkan dirinya dalam posisi benar-benar netral. Dari masalah yang ada, juri menilai objektif terhadap pro dan kontra. Argument, alasan, dan solusi mana yang baik dan lebih memecahkan masalah.
Dari pelajaran debat ini, saya ingin meyeretnya dala kehidupan sehari hari kita. Kebanyakan, atau kalau bisa dikatakan lebih ekstrim lagi saya ingin menyatakan hampir semua dari kita saat dihadapakan atau melihat suatu masalah kita berpendapat sebagai pihak atau kontra. Kenapa tidak menempatkan diri sebagai juri atau pihak netral?! yang melihat masalah tersebut dari dua sisi. Dari sisi positif dilihat, dari sisi negatif pun juga dilihatnya.
Saya hanya mengambil contoh. Bukan berarti saya mendukung kasus ini lho ya. Misalnya ada seorang pencuri, dan ternyata dia kepergok massa dan dihakimi masa hingga babak belur. Memang mencuri adalah perbuatan yang sangat buruk dan merugikan pihak tertentu. Namun kalo kita mau merenung terlebih dahulu di pihak si pencuri. Apa alasan dia mencuri? Mungkin dia terpaksa karena alasan ekonomi. Oleh sebab itu dia mencuri. Lalu apakah dengan alasan ekonomi dia dibiarkan untuk mencuri?tentunya tidak. Kita berikan solusi agar kasus pencurian dapat ditekan. Seperti dengan menyediakan lapangan kerja lebih banyak lagi, memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi karyawan. Dengan ini, mungkin tidak hanya masalah pencurian yang dapat teratasi, tapi juga angka kemiskinan berkurang, kasus kriminal berkurang, tingkat keekonomian negara menjadi lebih baik, banyak anak yang dapat melanjutkan pendidikannya. banyak yang dapat diatasi. tentunya ini dapat terlaksana jika seluruh pihak terkait sungguh sungguh melaksanakan perannya.
Semoga, kita dapat melihat suatu masalah lebih netral dan objektif lagi. Sehingga berbagai masalah yang mucul dapat diatasi dengan solusi terbaik. Kita mempunyai 200 juta jiwa di negeri ini. Masa sih tidak satu diantaranya memiliki solusi yang terbaik dari berbagai solusi. Kita juga mempunyai banyak orang pintar ko...

Senin, 14 Desember 2009

Harapkan Pemimpin yang Bijak

Setiap orang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimipin. Minimal untuk memimpin dirinya sendiri. Itu kata-kata yang sering kita dengar kalau sedang membahas tentang kepemimpinan.
Memang kodratnya manusia, dilahirkan kedunia ini untuk menjadi seorang pemimpin.

Pada zaman modern saat sekarang ini, kalau boleh dikatakan kita mengalami krisis kepemimpinan. Pemimpin yang dapat memimpin negara dengan baik, jujur, dan selalu berusaha untuk berlaku adil, tidak silau dengan harta dunia, tidak hanya mengumbar janji dikala kampanyenya.

Disisi lain, kita pun tidak dapat melihat mana sebenarnya pemimpin yang baik dan tidak. Bagi pemimpin yang baik, ada saja cara pihak yang kontra untuk menjelek-jelekkan kandidat tersebut. Suatu ketika pernah saya diberi tahu; "Berapa orang yang menyukai mu, maka sebanyak itu pula lah orang yang tidak menyukai diri mu". Seorang pemimpin yang bijak tentunya juga harus menyiapkan mentalnya dengan baik. Akan begitu banyak cobaan, celaan, dan halangan yang akan dihadapinya. Dari dalam maupun dari luar dirinya.

Bagi pemimpin yang memang hanya mengejar kekuasaan dan materi, ada saja kesmpatan baginya untuk menutupi sagala keburukannya, dan menjelma seketika menjadi dewa penyelamat bagi rakyatnya. Namun dia buta akan nasib rakyatnya setelah kekuasaan dia peroleh.

Lalu, kapan dan dimana akan kita temui pemimpin yang dimipikan rakyat?yang mampu berbuat adil dan sepenuhnya berbuat untuk kepentingan rakyat?